Minggu, 20 Januari 2013

praktikum lapangan morfologi tumbuhan


LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN MORFOLOGI TUMBUHAN
MENGENAL MACAM-MACAM SPECIES YANG TERDAPAT DI LOKASI HUTAN LINDUNG DESA AMERORO DI KECAMATAN EUPAI, KEBUPATEN KONAWE, SULAWESI TENGGARA
                                                            
     OLEH :
KELOMPOK V
KELOMPOK XIV
TRI MANIARTA SARI (A1C2 11 029)
IRMAYANTI M (A1C2 11 022)
WA ODE WILDAYANTI (A1C2 11 021)
MUH. RISMAN WAHID (A1C2 11 019)
WA ODE NUR AZIBA (A1C2 11 081)
IRMAYANTI (A1C2 11 058 )
ASWITA (A1C2 11 045)
ROSTINA (A1C2 11 089 )
ROSMAN SADAT (A1C2 11 056)
SRI HARSINI (A1C2 11 036)
ALI MURNI (A1C2 11 0)
AGUSTIA (A1C2 11 101)
WA ODE ISNAWATI (A1C2 11 0)
ST. MAYANA (A1C2 11 0)

LABORATORIUM PENDIDIKAN UNIT BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2013













KATA PENGANTAR


       Pertama-tama tiada kata yang indah yang patut kami ucapkan mengawali tulisan ini selain ucapan puji dan  syukur kepada Allah SWT karena kami menyadari bahwa hanya karena limpahan rahmat dan karunia-Nya juga sehingga kami dari kelompok V dan XIV  dapat menyelesaikan penyusunan Laporan  Lapangan Praktikum Morfologi Tumbuhan ini tepat pada waktunya. Kami juga menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada segala pihak yang terlibat dalam kegiatan praktikum lapangan ini sampai dengan penyusunan laporan hasil praktikum. Rasa penghargaan yang tak terhingga kami sampaikan kepada :
1. Kepala Laboratorium Pendidikan Unit Biologi.
2. Dosen pembimbing mata kuliah Morfologi Tumbuhan.
3. Team asisten Morfologi Tumbuhan.
4. Rekan-rekan Pendidikan Biologi 011.
       Penyusunan laporan lapangan ini merupakan salah satu syarat dalam proses belajar-mengajar khususnya mata kuliah praktikum Morfologi Tumbuhan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan praktikum Morfologi Tumbuhan. Kami berharap laporan praktikum ini dapat memberikan manfaat dalam proses praktikum selanjutnya dan dapat menjadi bahan referensi bagi penyusunan laporan yang relevan dan juga dapat memberikan informasi kepada pihak pembaca, khususnya kepada penyusun sendiri mengenai jenis-jenis tumbuhan berbuah dan jenis-jenis buah yang teridentifikasi di Lokasi Hutan Lindung di Desa Ameroro, Kecamatan Eupai, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
       Akhir kata, kami menyampaikan permohonan maaf jika dalam penyusunan laporan ini terdapat kekeliruan atau ada kata-kata yang tidak berkenan di hati pembaca. Kami  juga menyadari penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari semua pihak demi kesempurnaan dalam penulisan laporan lapangan selanjutnya. Terlepas dari semua itu, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
                                               

                                                                                                 Kendari, 16 Januari 2013




                                                        penyusun
.











BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

       Indonesia dikenal sebagai negara dengan tingkat keanekaragaman vegetasi yang sangat tinggi. Hal ini didukung dengan iklim  tropis yang membuat curah hujan tinggi dan tanah yang subur. Daerah-daerah dengan tingkat keanekaragaman yang sangat tinggi tersebar luas  di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk  daerah Sulawesi Tenggara, khususnya di Hutan Lindung Desa Ameroro.
       Keanekaragaman tumbuhan yang sangat tinggi dapat ditinjau dari jumlah spesies yang sangat besar  yang tumbuh di berbagai lokasi tersebut.  Dasar pengklasifikasian tumbuhan  yang sangat beraneka ragam tersebut dapat ditinjau dari keberadaan organ-organ  yang terdapat pada suatu tumbuhan,  utamanya dalam hal morfologi dari organ-organ tersebut.
       Secara garis besar organ-organ  pada tumbuhan dibedakan dalam dua kategori besar, yakni organum nutritivum  yang menjadi alat untuk memperoleh zat-zat makanan dari luar tubuh dan organum reproductivum yang menjadi alat dalam perkembangbiakan tumbuhan itu sendiri.  Masing-masing organ tersebut memiliki ciri morfologi tersendiri yang mendukung fungsi fisiologis dari tiap-tiap organ tersebut.

       Organ-organ yang termasuk dalam alat perkembangbiakan pada tumbuhan meliputi bunga, buah dan biji. Bunga merupakan organ yang menghasilkan organ buah dan biji. Buah adalah organ tumbuhan yang mengikuti perkembangan dari biji. Walaupun buah tidak berperan secara langsung dalam pembentukan tumbuhan baru, namun tetap memegang peranan yang sangat penting, baik dalam proses pemencaran maupun pelindung dari biji itu sendiri. 

       Buah pada umumnya dibedakan berdasarkan asal-usulnya sehingga kita dapat mengenal adanya buah sejati dan buah semu. Pembagian tersebut merupakan pembagian yang sangat umum dan dalam perkembangannya masih dibedakan lagi dalam berbagai sub bagian. Masing-masing sub bagian tersebut memiliki karakateristik tersendiri yang membedakannya dengan tipe yang lainnya.
        Biji memiliki peranan yang sangat penting dalam tumbuhan tingkat tinggi. Reproduksi secara seksual pada Spermatophyta melibatkan biji secara penuh dalam proses pembentukan individu baru. Dengan demikian biji memiliki bagian-bagian tertentu yang mendukung fungsinya masing-masing.   
        Dalam upaya memahami karakateristik dari buah dan biji, kita tidak bisa semata-mata hanya mengacu pada teori yang ada. Kita membutuhkan suatu metode khusus yang dapat memberikan pemahaman secara menyeluruh mengenai objek kajian kita. Dalam hal ini,praktikum laboratorium menjadi sangat penting. Namun, mengingat  ruang lingkup praktikum laboratorium yang terbatas maka kita membutuhkan suatu metode khusus yang  lebih efektif.

     Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut di atas,maka dianggap perlu untuk melaksanakan praktikum lapangan Morfologi Tumbuhan, khususnya tentang Buah dan Biji. Hal ini dapat menjadi bahan perbandingan sekaligus pembuktian terhadap teori yang ada dengan kenyataan di lapangan melalui suatu bentuk pengamatan secara langsung pada habitat dimana tumbuhan tersebut hidup.


B. Rumusan Masalah

Permasalahan yang akan dikaji dalam laporan ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Spesies-spesies tumbuhan apa saja yang terdapat pada Hutan Lindung di desa Ameroro?
2. Apa jenis-jenis buah, batang, daun, biji, akar yang terdapat di lokasi Hutan Lindung Desa Ameroro?


C. Tujuan Praktikum

Tujuan yang hendak dicapai dalam praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui beberapa  spesies  apa saja yang terdapat pada Hutan Lindung di desa Ameroro.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis buah batang, daun, biji, akar yang terdapat di lokasi Hutan Lindung Desa Ameroro.


D. Manfaat Praktikum

Manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Membantu mahasiswa (praktikan) dalam upaya memahami karakateristik buah, daun, batang, bunga, akar, dan biji melalui pengamatan secara langsung di lapangan.
2. Sebagai bentuk realisasi dari program-program praktikum Morfologi Tumbuhan yang telah dirumuskan oleh pihak Laboratorium pendidikan  Unit Biologi.
3. Memberikan informasi mengenai jenis-jenis tumbuhan berbuah dan jenis-jenis buah yang terdapat di lokasi Hutan Lindung Desa Ameroro.
4. Menumbuhkan rasa kecintaan terhadap alam  dan sikap menghargai keanekaragaman vegetasi sebagai bentuk kekayaan bangsa.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


       Gymospermae kemungkinan merupakan keterunan bagi progimnospermae, suatu kelompok tumbuhan masa Defon. Progimnosperma pada mulanya adalah tumbuhan tak berbiji, akan tetapi pada akhir masa Devon, biji telah dievolusikan. Radiasi adaktif selama karbonifrus dan awal premium menghasilkan berbagai divisi gymnosperma. Dalam sejarah kehidupan masa premium merupakan salah satu alasan mengapa bagian dalam kontinen itu menjadi lebih hangat da lebih kering seiring dengan berjalannya masa remium (Campbell, 2003: 173).
       Tumbuhan biji merupakan tumbuhan dengan tingkat perkembangan filogenetik tertinggi, yang dicirikan dengan adanya  suatu organ yang berupa biji (dalam bahasa Yunani: sperma). Biji berasal dari bakal biji yang dapat disamakan dengan makrosporangium.  Di dalamnya dihasilkan makrosporan yang tidak pernah meninggalkan tempatnya dan di tempat itu selanjutnya berkembang menjadi makroportalium dengan arkegonium serta sel telurnya.  Setelah terjadi pembuahan, zigot yang terbentuk berkembang menjadi embrio yang sementara tetap di tempat itu pula. Selanjutnya, bakal biji yang kemudian mengandung embrio itu berkembang menjadi alat reproduksi yang disebut biji.  Jadi, dari segi ontogeninya, biji adalah suatu alat reproduksi generatif  atau seksual karena terjadinya didahului oleh suatu peristiwa seksual, yakni peleburan sel telur dengan sel kelamin jantan (Tjitrosoepomo, 2004:1).
       Bersamaan dengan perubahan bakal biji menjadi biji terjadilah buah, yaitu suatu organ yang berasal dari bunga, yang menyelubungi biji dan berguna untuk pemencaran biji tadi dengan melemparkan biji itu dari dalam buah, atau bersamaan dengan buah terpisah dari tumbuhan induknya. Yang berubah menjadi buah itu terutama bakal buah, tetapi juga bagian-bagian lain dari bunga dapat ikut mengambil bagian dalam pembentukan buah dan dapat pula ikut mengambil dalam pembentukan alat-alat pemencaran. Berdasarkan susunan dan asal bagian-bagian yang membentuk buah itu maka kita membedakan buah menjadi dua jenis, yakni buah sungguh atau buah sejati dan buah semu atau fructus spurius (Tjitrosoepomo, 2007:69).
       Buah adalah perkembangan dinding bakal buah dan terkadang juga bagian-bagian bunga yang lain.  Buah mengandung biji. Buah memiliki bentuk yang bermacam-macam. Pada setiap macam buah tersebut msing-masing membantu menyebarkan biji-bijinya. Ada yang dibantu dengan struktur khusus sehingga disebarkan oleh angin, ada yang melekat pada pakaian kita atau bulu hewan, sehingga dapat terbawa ke tempat lain. Biji adalah sporofit embrio dorman dengan makanan cadangan dan salut pelindung.  Biji memiliki dua fungsi, yakni menyebarkan spesies ke tempat baru dan mempertahankan spesies dalam keadaan iklim yang tidak menguntunglan (Kimball, 1999: 350)
       Buah pada tumbuhan pada umumnya dibedakan menjadi dua golongan, yakni buah semu atau tertutup dan buah sungguh atau telanjang. Buah semu atau tertutup adalah buah yang terbentuk dari bakal buah beserta bagian-bagian lain pada bunga itu yang malah menjadi bagian utama dari buah ini (lebih besar, lebih menarik perhatian,  dan seringkali menjadi bagian buah yang bermanfaat, dapat dimakan), sedang buah yang sesungguhnya kadang-kadang tersembunyi. Buah sungguh atau buah telanjang adalah buah melulu terjadi dari bakal buah dan jika ada bagian-bagian lainnya yang masih tinggal, bagian ini tidak menjadi bagian buah yang berarti (Tjitrosoepomo, 2003:222).
      Pertumbuhan tinggi tumbuhan dipengaruhi oleh perbedaan kecepatan pembentukan dedaunan bergantung pada kualitas tempat tumbuh.Setidaknya terdapat tiga faktor lingkungan dan satu faktor genetik (intern) yang sangat nyata berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi yaitu kandungan nutrien mineral tanah, kelembaban tanah, cahaya matahari, serta keseimbangan sifat genetik antara pertumbuhan tinggi dan diameter suatu pohon (Davis danJhonson, 1987).
       Empat aspek utama yang dipelajari dalam taksonomi tumbuhan adalah identifikasi, klasifikasi, deskripsi, dan nomenclature. Identifikasi adalah usaha atau cara mendapatkan atau memberikan nama kepada takson atau sekelompok tumbuhan tertentu, sesuai dengan cara-cara yang ditetapkan dalam nomenclature. Klasifikasi adalah cara penempatan suatu takson atau sekelompok tumbuhan pada tingkatan-tingkatan klasifikasi tertentu sesuai dengan ketentuan-ketentuan nomenclature. Deskripsi adalah uraian lengkap tentang morfologi suatu takson yang dapat menentukan karakter, karakter state, serta karakteristik dari takson tersebut. Nomenclature adalah peraturan atau pedoman tata cara pemberian nama serta pengklasifikasian tumbuhan. Secara lengkap nomenclature disebut International Codes of Botanical Nomenclature atau Kode Internasional Tata Nama Tumbuhan( Tjitrosoepomo, 1991).
     Suatu daerah yang didominansi oleh hanya jenis-jenis tertentu saja, maka daerah tersebut dikatakan memiliki keanekaragaman jenis yang rendah. Keanekaragaman jenis yang tinggi menunjukan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas yang tinggi, karena di dalam komunitas itu terjadi interaksi antara jenis yang tinggi.Lebih lanjut dikatakan, keanekaragaman merupakan ciri dari suatu komunitas terutama dikaitkan dengan jumlah individu tiap jenis pada komunitas tersebut. Keanekaragaman jenis menyatakan suatu ukuran yang menggambarkan variasi jenis tumbuhan dari suatu komunitas yang dipengaruhi oleh jumlah jenis dan kelimpahan relatif dari setiap jenis (Latifah, 2004).
       Hutan memiliki beberapa fungsi bagi kehidupan manusia antara lain: (1) pengembangan dan penyediaan atmosfir yang baik dengan komponen oksigen yang stabil, (2) produksi bahan bakar fosil (batu bara), (3) pengembangan dan proteksi lapisan tanah, (4) produksi air bersih dan proteksi daerah aliran sungai terhadap erosi, (5) penyediaan habitat dan makanan untuk binatang, serangga, ikan, dan burung, (6) penyediaan material bangunan, bahan bakar dan hasil hutan, (7) manfaat penting lainnya seperti nilai estetis, rekreasi, kondisi alam asli, dan taman. Semua manfaat tersebut kecuali produksi bahan bakar fosil, berhubungan dengan pengolahan hutan. Menurut Soerianegara dan Indrawan (1978) hutan adalah masyarakat tetumbuhan yang dikuasai atau didominasi oleh pohon-pohon dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan di luar hutan. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap (Keputusan Menteri Kehutanan RI, No.70/Kpts- II/2001) (Daniel, 1992).
       Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, tersebar dari Sabang hingga ke Merauke. Sebagian besar dari pulau-pulau tersebut merupakan pulau-pulau berukuran kecil yang memiliki keanekaragaman tumbuhan, hewan, jasad renik yang tinggi. Hal ini terjadi karena keadaan alam yang berbeda dari satu pulau ke pulau lainnya, bahkan dari satu tempat ke tempat lainnya dalam pulau yang sama. Sistem perpaduan antara sumber daya hayati dan tempat hidupnya yang khas itu, menumbuhkan berbagai ekosistem, yang masing-masing menampilkan kekhususan pula dalam kehidupan jenis-jenis yang terdapat didalamnya, diantaranya adalah ekosistem hutan (Irwanto, 2007).
       Ada dua komponen keanekaragaman jenis, yaitu kekayaan jenis dan kesamarataan. Kekayaan jenis adalah jumlah jenis dalam suatu komunitas. Keanekaragaman jenis cenderung besar dalam suatu komunitas yang lebih tua. Keanekaragaman jenis cenderung kecil untuk komunitas yang baru dibentuk. Kesamarataan adalah pembagian individu yang merata diantara jenis. Pada kenyataannya setiap jenis itu mempunyai jumlah individu yang tidak sama(Odum, 1993).
      Frekuensi suatu jenis menunjukan penyebaran jenis-jenis dalam areal tertentu. Jenis yang menyebar secara merata mempunyai nilai frekuensi yang besar, sebaliknya jenis-jenis yang mempunyai nilai frekuensi kecil mempunyai daerah sebaran yang kurang luas. Kerapatan dari suatu jenis merupakan nilai yang menunjukan jumlah atau banyaknya suatu jenis per satuan luas, makin besar kerapatan suatu jenis, makin banyak individu jenis tersebut persatuan luas. Dominansi suatu jenis merupakan nilai yang menunjukan penguasaan jenis terhadap komunitas (Soerianegara, 2002).
       Ada beberapa pendapat yang saling berbeda tentang istilah taksonomi dan sistematik tumbuhan, ada yang berpendapat bahwa taksonomi merupakan ilmu dasar dan mencakup hal-hal yang lebih luas dibandingkan dengan sistematik dan juga ada yang berpendapat sebaliknya. Mason (1950) mengatakan bahwa taksonomi mempunyai bidang studi biologi yang luas, terdiri dari sistematik dan studi perbandingan organisme, sistem taksonomi, nomenclature dan dokumentasi. Sedangakan Simsom (1961), Heywood (1967), Mayor (1969), dan Rose (1974) cit Usman mengatakan bahwa sistematik merupakan ilmu yang mempelajari tentang keanekaragaman, perbedaan dan hubungannya satu sama lain. Taksonomi adalah bagian dari sistematik tumbuhan.Kemudian, Clive a. stace (1979) cit Ustman berpendapat bahwa taksonomi adalah sinonim dari sistematik tumbuhan. Dengan demikian maka tergantung dari sudut mana kita melihat dan mengembangkannya. Dari kebiasaan penggunaan secara institusi kelihatannya untuk mata ajaran bagi pendidikan penunjang ilmu-ilmu teknis semuanya menggunakan istilah sistematik, sedangkan untuk pendidikan basic ilmiah seperti biologi menggunakan istilah atau judul mata ajaran taksonomi (Ustman, 1999).
       Hutan adalah satu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (UU RI No. 41 Tahun 1999). Hutan adalah suatu wilayah luas yang ditumbuhi pepohonan, termasuk juga tanaman kecil lainnya seperti, lumut, semak belukar, herba dan paku-pakuan. Pohon merupakan bagian yang dominan diantara tumbuh-tumbuhan yang hidup di hutan. Berbeda letak dan kondisi suatu hutan, berbeda pula jenis dan komposisi pohon yang terdapat pada hutan tersebut. Sebagai contoh adalah hutan di daerah tropis memiliki jenis dan komposisi pohon yang berbeda dibandingkan dengan hutan pada daerah temprate (Rahman, 1992).









BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A.      Waktu dan Tempat
1.         Pencarian dan Sampel Praktikum
         Pencarian sampel praktikum dilaksanakan pada hari Minggu 13 Januari 2013, pukul 13.00 sampai 14.30 WITA bertempat di kawasan Hutan Lindung Desa Ameroro, Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
2.         Pengidentifikasian Sampel Praktikum
           Pengidentifikasian sampel praktikum dilaksanakan pada hari Rabu 16 Januari 2013 pukul 13.00 WITA sampai selesai bertempat di Laboratorium Pendidikan Unit Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Haluoleo, Kendari
B.       Alat dan Bahan
1.         Alat  Praktikum
          Instrumen dari praktikum lapangan ini dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Instrumen dari praktikum lapangan mengenai Buah dan Biji
No.
Alat
Fungsi
1.
2.
3.
4.
5.

Parang
Etiket gantung
Kantung plastik
Kertas koran
Kamera
Untuk Memotong Objek
Untuk menandai objek pengamatan
Untuk menyimpan sampel yang diamati
Untuk mengalasi objek pengamatan
Untuk mendokumentasikan objek yang diamati


2. Bahan Praktikum
Bahan yang digunakan dalam praktikum lapangan ini dapat dilihat  sebagai berikut :
1. Spesies tumbuhan Spermatophyta yang ada di kawasan Bendungan Ameroro  Desa Tamasandi Kecamatan Uepai Kabupaten Konawe.


C. Metode Praktikum

Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode eksplorasi, yakni menjelajahi lokasi praktikum sambil mengumpulkan  sampel specimen yang ditemukan.


D. Prosedur Kerja

Adapun prosedur kerja dalam pengumpulan data pada praktikum lapangan Morfologi Tumbuhan yaitu sebagai berikut:
1) Pengumpulan sampel
Pengumpulan sampel dilakukan dengan metode eksplorasi yakni metode jelajah secara acak terwakili dimaksudkan untuk mengumpulkan data dari tiap-tiap kawasan jelajah, sehingga tiap kawasan memiliki contoh yang bisa dijadikan sebagai pembanding dengan daerah lainnya. kawasan sampel ini bisa dibagi berdasarkan kebutuhan dan tujuan dari penelitian itu sendiri, misal pengumpulan data berdasarkan ketinggian lokasi, berdasarkan tingkat kelembaban, berdasarkan tipe habitat dan lain-lain.
2) Mendokumentasikan sampel
Pendokumentasian yang dilakukan dengan cara meletakkan masing-masing sampel pada kertas manila. Lalu melakukan pengambilan gambar pada tiap-tiap sampel yang ada.
3) Mengawetkan dalam sasak
Proses pengawetan dilakukan dengan cara yaitu tiap-tiap sampel/spesies diletakkan/ditempelkan dengan menggunakan double type/selotip  di atas kertas koran. Setelah semua species/sampel ditempel lalu sampel-sampel tersebut ditutup dengan menggunakan sasak.
4) Pengidentifikasian sampel
Pengidentifikasian sampel dilakukan dilaboratorium dengan cara; setiap sampel yang belum diketahui speciesnya diidentifikasi dengan menggunakan literature berupa buku dan internet.
5) Mengklasifikasikan
Setelah pengidentifikasian selanjutnya dilakukan proses pengklasifikasian pada tiap-tiap/masing-masing spesies yang sudah diketahui spesiesnya.







BAB IV

HASIL DAN DESKRIPSI


A. Deskripsi  Lokasi Pengamatan

       Kabupaten Konawe adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsiSulawesi Tenggara, Indonesia.Ibu kotakabupaten ini terletak di Unaaha. Dulu kabupaten ini bernama Kabupaten Kendari.Kabupaten ini memiliki luas wilayah 16.480 km² dan berpenduduk sebanyak 443.911 (2000).Kabupaten Konawe dikenal sebagai lumbung beras di provinsi Sulawesi Tenggara.Separuh produksi beras provinsi tersebut berasal dari Kabupaten Konawe.
       Kabupaten Konawe ibu kotanya adalah Unaaha yang berjarak sekitar 73 km dari Kota Kendari, secara geografis terletak dibagian selatan Katulistiwa, memanjang dari utara ke selatan di antara antara 3°00' – 4°25' Lintang Selatan dan membentang dari barat ke timur antara 121°73' – 123°15' Bujur Timur dengan batas wilayah Utara : Provinsi Sulawesi Tengah, Selatan : Kabupaten Konawe Selatan, Barat : Kabupaten Kolaka, dan Timur : Laut Banda dan Laut Maluku.
Luas wilayah daratan Kabupaten Konawe 11.669,91 km² atau 42,43 persen dari luas wilayah daratan Sulawesi Tenggara, sedangkan luas wilayah perairan laut (termasuk perairan Kabupaten Konawe Selatan) ± 11.960 km² 2 atau 10,87 persen dari luas perairan Sulawesi Tenggara.
       Permukaan tanah pada umumnya bergunung dan berbukit yang diapit dataran rendah yang sangat potensial untuk pengembangan sektor pertanian.Berdasarkan garis ketinggian menurut hasil penelitian pada areal seluas 1.556.160 ha.Jenis tanah meliputi Latosol 363.380 ha atau 23.35 persen. Padzolik 438.110 ha 28,15 persen, Organosol 73.316 ha atau 4,80 persen dan tanah campuran 553.838 ha 35,59 persen.
     Kabupaten Konawe mempunyai beberapa sungai besar yang cukup potensial untuk pengembangan pertanian, irigasi dan pembangkit tenaga listrik, seperti Sungai Konaweeha, Sungai Lahumbuti, Sungai Lapoa, Sungai Lasolo, Sungai Kokapi, Sungai Toreo, Sungai Andumowu dan Sungai Molawe.


B. Hasil Pengamatan

1. Pengamatan pada Graminiae
   



Klasifikasi :
Regnum : Plantae
Divicio : Spermatophyta
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Familia : Poaceae
Genus : Imperata
Species : Imperata cylindrical L.
(Tjitrosoepomo, 2010:440)

Deskripsi :
Alang-alang ( Imperata cylindrica L.) ; Habitus :semak.Akar; rimpang.Daun; pita bertulang sejajar, memiliki helaian upih dan lidah-lidah.Bunga; banci, kecil, tidak menarik, terdapat di ketiak daun.Memiliki dua daun kelopak yang berlekatan, dua daun mahkota, benang sari 1-6.Buah; padi.Biji ; memiliki endosperm.

2. Pengamatan pada Mangga (Mangifera indica)








Klasifikasi:
Kingdom  : Plantae
Divisi : Spermatophyta 
Kelas :Dicotyledoneae
Ordo : Sapindales
Famili : Anacardiaceae 
 Genus : Mangifera
 Spesies   : Mangifera indica L.

Deskripsi:
Akar; tunggang. Daun; menyirip, bangun daun jorong, nagian yang terlebar ada ditengah-tengan helaian daun, warna hijau tua hingga kuning ketika tua, dan warna hijau muda ketika masih muda. Batang: bulat, berwarna coklat, tegak. Buah; bulat, lonjong, berwarna hijau kulitnya ketika masih muda dan kuning ketika sudah tua. Biji; berkeping dua.

3. Pengamatan  Putri Malu (Mimosa pudica)







Klasifikasi   :
Regnum : Plantae
Divicio : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Familia : Leguminoseae
Genus : Mimosa
Species : Mimosa pudica 
(Tjitrosoepomo, 2010:204)

Deskripsi :
Akar ; Serabut. Batang; Berbentuk silindris, berbulu banyak dan terdapat duri. Dapat mencapai ketinggian sampai 1,5 m. Termasuk tanaman tahunan (perennial). Daun; Sangat sensitif oleh sentuhan, merupakan daun majemuk (folium compositium). Bunga; Aktinomorphik, poligamus. Buah; Tidak ada. Habitat; Majemuk, berupa polong yang lonjong, bilasudah tua akan rontok dan biji akan keluar. Perbanyakan; Generatif dengan biji. Pengendalian; Dengan penyemprotan 1,1 kg MSMA + 0,45 kg 2,4-D + 2,2 kg Sodium klorat + 0,61 Surfactant pada 182 liter air dengan jangka waktu 5 minggu.

4. Pengamatan Jati (Tectona grandis)







Kilasifikasi   :
Regnum : Plantae
Divicio : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Lamiales
Familia : Lamiaceae
Genus : Tectona 
Species : Tectona grandis

Deskripsi:
Jati (Tectona grandis); Habitus: pohon besar dengan batang yang bulat lurus, tinggi totall mencapai 40 m. Batang bebas cabang (clear bole) dapat mencapai 18-20 m,.   memiliki batang yang berlekuk atau beralur dalam; dan jati pring (Jw., bambu) nampak seolah berbuku-buku seperti bambu. Kulit batang coklat kuning keabu-abuan, terpecah-pecah dangkal dalam alur memanjang batang. Daun: umumnya besar, bulat telur terbalik, berhadapan, dengan tangkai yang sangat pendek, daun yang muda berwarna kemerahan dan mengeluarkan getah berwarna merah darah apabila diremas. Ranting yang muda berpenampang segi empat, dan berbonggol di buku-bukunya. Bunga: majemuk terletak dalam malai besar, 40 cm × 40 cm atau lebih besar, berisi ratusan kuntum bunga tersusun dalam anak payung menggarpu dan terletak di ujung ranting; jauh di puncak tajuk pohon. Taju mahkota 6-7 buah, keputih-putihan, 8 mm. Berumah satu. Buah: berbentuk bulat agak gepeng, 0,5 – 2,5 cm, berambut kasar dengan inti tebal, berbiji 2-4, tetapi umumnya hanya satu yang tumbuh, tersungkup oleh perbesaran kelopak bunga yang melembung menyerupai balon kecil. Nilai Rf pada daun jati sendiri sebesar 0,58-0,63.

5. Pengamatan pada Lantana camara






Klasifikasi  :
Kingdom :  Plantae (Tumbuhan)
Divisi :  Spermatophyta 
Kelas :  Dicotyledonae  
Ordo :  Lamiales
Famili :  Verbenaceae
Genus :  Lantana
Spesies :  Lantana camara L.

Deskripsi :
Biji; Biji sirih berbentuk bulat berkeping dua. Buah; setiap buah satu biji saja. seperti buah buni bulat tangkai berbulu saat masih muda berwarna hijau, akan berwarna hitam atau ungu kehitam-hitaman  mengkilat. Bentuk bulat telur, kecil bergaris tengah 4-6 mm, dan berbiji satu. Bunga; termasuk bunga majemuk. muncul dari ketiak daun, berukuran sekitar 5-13 mm. bunga berwarna agak pucat, menjadi cerah. memikat. rangkaian yang bersifat rasemos mempunyai warna putih, merah muda, jingga kuning, ungu merah dsb. Akar; memiliki sistem perakaran tunggang. Batang; Perdu tegak atau setengah merambat  atau agak memanjat, tanaman ini memiliki banyak cabang dan ranting bentuk segi empat. Pada umumnya tinggi 0,5 hingga 4 m, tanaman menahun, batang berkayuserta  berduri dan berambut. Daun; tunggal, duduk berhadapan dan berbentuk bulat telur serta ujung  yang meruncing, dengan  Pangkal daun tumpul, tepi daun yang bergerigi dengan  tulang daun menyirip, permukaan  bagian atas  berambut banyak, terasa kasar, bawah permukaan daun jarang terdapat rambut. beraroma bau dan Panjang  5-8 cm,  lebar 3-5 cm. Warna  hijau tua.

6. Pengamatan Gamal








Klasifikasi :
Regnum   : Plantae
Divicio : Spermatophyta
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Fabales
Familia     : Fabaceae
Genus : Gliricidia
Species    : Gliricidia sepiu

Deskripsi:
Gamal ( Gliricidia sepium); Habitus: perdu atau pohon kecil, biasanya bercabang banyak. Daun: majemuk, menyirip ganjil,   ketika muda dengan rambut-rambut halus seperti beledu. Anak daun 7–17 (-25) pasang yang terletak berhadapan atau hampir berhadapan, bentuk jorong atau lanset , dengan ujung runcing dan pangkal membulat, helaian anak daun gundul, tipis, hijau di atas dan keputih-putihan di sisi bawahnya. Bunga: berupa malai berisi 25-50 kuntum, 5-12 cm panjangnya. Bunga berkelopak 5, hijau terang, dengan mahkota bunga putih ungu dan 10 helai benangsari yang berwarna putih.Umumnya bunga muncul di akhir musim kemarau, tatkala pohon tak berdaun.Buah: polong berbiji 3-8 butir, pipih memanjang, 10-15 cm × 1.5-2 cm, hijau kuning dan akhirnya coklat kehitaman, memecah ketika masak dan kering, melontarkan biji-bijinya hingga sejauh 25 m dari pohon induknya.

7. Pengamatan Jambu Biji







Klasifikasi :
Regnum : Plantae
Divicio : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Myrtales
Familia : Myrtaceae
Genus : Psidium
Species : Psidium guajava
(Tjitrosoepomo, 2010:222)
Deskripsi
Jambu biji (Psidium guajava); Habitus: pohon. Daun: tunggal, bersilang berhadapan, pada cabang-cabang mendatar seakan-akan tersusun dala 2 baris pada 1 bidang, tanpa daun penumpu. Bunga: banci, aktinomorf, kelopak dan mahkta masing-masing terdiri atas 4-5 daun kelopak dan sejumlah daun mahkota yang sama yang kadang-kadang berlekatan atau tidak terdapat, benang sari banyak , kadang-kadang berkelompok berhadapan dengan daun mahkota, bakal buah tenggelam, mempunyai 1 tangkai putik, beruang 1  banyak dengan 1 8 bakal biji dalam tiap ruang. Buah: batu dengan biji sedikit endosperm. 

8. Pengamtan  Jambu Monyet (Anacardium occidentale)







Klasifikasi 
Kingdom      : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class           : Magnoliopsida
Ordo             : Sapindales
Famili           : Anacardiaceae
Genus           : Anacardium
Spesies         : Anacardium occidentale, L

Deskripsi :
Tanaman semak sampai pohon, batang agak keras, bercabang sedikit dan tidak beraturan, daun mirip panah dengan ujung runcing sekali, warna daun hijau tua, letak daun melengkung ke bawah, bunga bulat dengan ujung runcing, letak bunga tunggal atau berkelompok berhadapan dengan letak daun, daun mahkota bagian luar panjang dan berwarna hijau, pangkal daun mahkota berwarna ungu, bakal buah berbentuk telur seperti ginjal, kulit buah benjol-benjol, berwarna hijau kekuningan.

9. Pengamatan pada Teki Rawa (Ciperus rotundus)













Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta 
Kelas : Monocotyledoneae                   
Ordo : Cyperales
Famili : Cyperaceae
Genus : Cyperus
Spesies : Cyperus rotundus L.
Deskripsi  :
Rumput Teki (Cyperus rotundus);Habitus ; terna parenial. Daun ; bangun pita, bertulang sejajar, tersusun roset, upih tertutup. Batang ; segitiga, tidak berongga. Bunga ; banci, majemuk, kecil, tidak menarik, bulir-bulir kecil, atau perpayung ganda.Benang sari 3, putik 2. Biji : dengan lembaga yang kecil dan endosperm bertepung banyak.

10. Pengamatan pada Komba-Komba

     



Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta 
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Eupatorium
Spesies : Eupatorium inulifolium Kunth

Deskripsi:
Ki Rinyuh (Asterales); Habitus: Terna, perdu atau semak. Akar: Tunggang, berbingkul-bingkul. Batang: Bulat, berkayu, kulit batang berwarna hijau, diselimuti papilla halus dan pada bagian tengah terdapat jaringan gabus. Daun: Tidak lengkap, tunggal, berwarna hijau, bebentuk belah ketupat. Permukaan daun kasar, strukturnya tipis lunak, ujung meruncing, tepi daun bergerigi ganda, pangkal daunnya bulat. Biji: terdapat dalam buku-buku batang bagian ujung, berwarna hitam. 

11. Jambu Air hutan (Eugenia sp.)







Klasifikasi
Regnum   : Plantae
Divicio : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Myrtales
Familia     : Myrtaceae
Genus : Eugenia 
Species    : Eugenia sp
(Tjitrosoepomo, 2010: 222)

Deskripsi :
Jambu Air hutan (Eugenia sp.); Habitus ;pohon. Daun ; tunggal, bersilang berhadapan, tanpa daun penumpu. Bunga ; banci. Aktinomorf, kelopak dan mahkota 4-5, berlekatan, benang sari banyak, 1 putik. Buah ; buni. Biji ; sedikit atau tanpa endosperm, lembaga lurus. 

12. Pengamatan pada Spenomeri schusana








Deskripsi:
Spenomeri schusana:herba. Habitat; di tepi sungai, pinggir-pinggir jalan dan tempat-tempat yang terlindung dari cahaya.Rhizom: menjalar pendek. Ramenta: coklat gelap, kaku, lebar tiga sel. Tangkai: hijau ketika masih muda dan coklat kemerah-merahan ketika sudah tua, panjangnya 5 – 25 cm. Helaian daun: panjangnya 10 – 40 cm dan lebar 12 – 20 cm, bangun lanset sampai hampir oval. Daun majemuk ganda 3 – majemuk ganda 4.Pinna bawah biasanya mereduksi, berbentuk delta. Pada setiap pinnula pada bagian ujung melebar dan  melekuk dangkal sebagai tempat sori.Tekstur: tipis tetapi kuat. Urat daun: 2 atau 3 pada masing-masing pinulla atas. Indusium: pada tepi daun yang bergerigi halus. Spora: bilateral dan berwarna coklat.

13. Paku Kembang (Lygodium  flexuosum)








Klasifikasi:
Regnum : Plantae
Divicio : Pteridophyta
Classis  : Pteridopsida
Ordo : Schizaeales
Familia : Schizaeaceae
Genus : Lygodium
Species : lygodium flexuosum

Deskripsi :
Lygodiumflexuosum : Rhizome pendek, tertutup rapat dengan rambut-rambut coklat yang gelap. Tangkai merambat, biasanya tingginya beberapa meter; stipula 50 cm atau lebih panjang, staminus dengan bagian dasar yang berwarna coklat gelap, berambut sedikit atau glabrescent, bersayap sempit pada bagian yang lebih tinggi; rachis seluruhnya bersayap, puberulosa pada bagian permukaan yang lebih tinggi di antara sayap, straminus; cabang rachis primer sangat pendek mencapai 5 mm, ujung terakhir, tertutup dengan rambut-rambut pucat kecoklatan; cabang rachis sekunder menyirip sampai menyirip ganda, membujur untuk mengganti bentuk delta pada garis tepinya, biasanya dengan ujung yang tajam dengan panjng 10-25 cm lebar 7-12 cm; daun tersier pada cabang yang lebih rendah adalah palmate, bagian dasar berbeda berbentuk hati, bagian terpencil tanaman tiga cuping, hastate, atau sederhananya cuping berbeda berbentuk hati, cuping terakhir mencapai panjang 15 cm dan luas 2.5 cm, menajam sampai tajaman yang sedang pada ujung, bergerigi berbeda pada bagian tepi, engantangkai berbeda pada bagian dasar, tangkai mencapai panjang 1 cm, bersayap, rambut jarang, tanpa sambungan atau dengan sebuah tempelan kecil pada bagian dasar dari bagian yang berlapis-lapis; lapisan tipis menyerupai rumput-rumputan, gundul pada bagian atas, lapisannya kadang-kadang berambut jarang pada bagian bawah. Sporangia mengandung cuping yang menonjol pada bagian tepi dati daun tersier dan mencapai pangjan 1 cm dan lebar 1.5 mm; indusium gundul.
Habitat paku ini adalah merayap pada semak belukar atau pada cabang pohon tinggi, di daerah terbuka, di hutan gugu ratau di hutan campuran, umum ditemukaan pada ketinggian yang rendah  atau sedang.

14. Pengamatan pada Hymenophyllumdermissum








Deskripsi:
Hymenophyllum tunbrigense: indusium sampai±  1/3 panjangnya berkatup dua, tiang pendukung sporangium sedikit. Daun majemuk, dengan taju-taju yang sempit dan tipis, dan  rimpang merayap.

15. Pengamatan pada Pecut kuda (Stacthytarpheta jamaicensis )







Klasifikasi
Regnum : Plantae
Divicio : Spermatophyta
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Solanales
Familia : Verbenaceae
Genus : Stachytarpheta
Species : Stacthytarpheta jamaicensis
(Tjitrosoepomo, 2010:372)

Deskripsi :
Pecut kuda (Stacthytarpheta jamaicensis ) ; Habitus ; terna. Daun :tunggal, duduk berhadapan. Bunga; banci, zigomorf, mahkota berbilangan 5, benang sari 4.Putik 1.Bakal buah; menumpang, memiliki 2 –4 daun buah. Daun buah ; 2 bakal biji.Biji ;sedikit endosperm, lembaga lurus.

16. Kopi (Coffea Arabica)







Klasifikasi
Regnum : Plantae
Divicio : Spermatophyta
Class : Diotyledoneae
Ordo : Rubiales
Famili       : Rubiaceae 
Genus       : Coffea 
Spesies     : Coffea arabica
(Tjitrosoepomo,2010:337)

Deskripsi :
Kopi (Coffea Arabica); Habitus: perdu. Daun: tunggal, berhadapan atau berkarang dengan daun penumpu dalam ketiak atau antar tangkai. Bunga: banci, aktinomorf, dalam rangkaian bersifat rasemos, berbilangan 4 5, daun kelopak tersusun sebagai katub, mahkota berlekatan, benang  sari melekat pada mahkota dengan taju mahkota, bakal buah tenggelam, berung 1  banyak dengan tiap ruang terisi 1 banyak bakal biji, tangkai putik 1. Buah: majemuk dengan bakal biji yang memiliki endosperm.

17. Temulawak (Curcuma xantorrihiza)







Klasifikasi :
Regnum : Plantae
Divicio : Spermatophyta
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Familia : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Species : Curcuma xantorrihiza
(Tjitrosoepomo, 2010: 445)

Deskripsi :
Temulawak (Curcuma xantorrihiza) ;Habitus: terna parenial, dengan rimpang kadang-kadang berbentuk seperti umbi yng biasanya mengandung minyak menguap hingga berbau aromatic. Daun: tunggal, mempunyai sel-sel minyak menguap, tersusun dalam 2 baris, kadang-kadang jelas mempunyai tiga bagian berupa helain, tangkai, dan upih, helaian daun lebar dengan ibu tulang yang tebal dan tulang-tulang yang sejajar, tangkai daun pendek daun upih terbuka. Bunga: banci, zigomorf,terpisah-isah tersusun dalam buga majemuk tunggal atau berganda, kelopak dengan 3 daun kelopak dan 3 daun mahkota yang berlekatan, benag sari 1 dengan 3-5 benag sari mandul. Buah: kendaga, biji bulat atau berusuk, mempunyai salut biji, endosperm banyak. Bakal buah: tenggelam, beruang 3, bakal biji banyak

18. Babadotan (Ageratum conyzoides)





Klasifikasi :
Regnum   : Plantae
Divicio : Spermatophyta
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Asterales
Familia     : Asteraceae
Genus : Ageratum
Species    : Ageratum conyzoides
                                         (Tjitrosoepomo, 2010:334)

Deskripsi :
Babadotan (Ageratum conyzoides); Habitus: terna Daun: tunggal, duduk daun berhadapan, tanpa daun penumpu, bulat telur, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi beringgit,  pertulangan menyirip, tangkai pendek, hijau. Bunga : Majemuk, di ketiak daun, bongkol menyatu menjadi karangan, bentuk malai rata, panjang 6 – 8 mm, tangkai berambut, kelopak berbulu, hijau, mahkota bentuk lonceng, putih atau ungu. Buah : Padi, bulat panjang, bersegi lima, gundul atau berambut jarang, hitam. Biji : Kecil, hitam. Akar: tunggang, putih kotor.

19. Bunga Madu (Melastoma polyanthum)












Klasifikasi
Regnum   : Plantae
Divicio : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Myrtales
Familia     : Melastomataceae
Genus : Melastoma
Species    : Melastomapolyanthum
                                            (Tjitrosoepomo, 2010: 225)

Deskripsi :
Bunga Madu (Melastoma polyanthum); Habitus ; terna. Daun ;tunggal, berhadapan atau berkarang, tulang daun melengkung, tanpa daun penumpu. Bunga ;banci, aktinomorf, tampak menarik, kelopak 3-5, daun mahkota 3-5. Benang sari 3-5 atau 6-10.1tangkai putik.Bakal buah; tenggelam,  atau terletak bebas pada dasar kelopak. Buah; kendaga.Biji ; kecil tanpa endosperm.

20. Palem (Pinanga caesia )






Klasifikasi:
Regnum   : Plantae
Divicio : Tracheophyta
Class : Monocotyledoneae
Orde : Arecales
Family      : Arecaceae
Genus : Pinanga
Species     : Pinanga caesia
(Tjitrosoepomo, 2010:461)

Deskripsi:
Palem (Pinanga caesia ) ; Habitus ; pohon. Daun: tunggal, bercangap, berbagi, majemuk dengan susunan tulang menjari, tangkai daun kepangkal melebar menjadi upih dan membalut batang. Bunga: kecil, banci, berumah 1 atau berumah 2, tersusun dalam bunga majemuk berbentuk  seperti malai, hiasan bunga ganda, 3 daun kelopak yang terpisah, 3 daun mahkota yang bebas, dalam bunga jantan tersusun seperti katup-katup, dalam bung betina tersusun seperti genting benang sari biasanya 6 tersusun dalam 2 lingkaran  bebas 1 dengan  yang lain, kepala sari beruang 2. Buah: buni atau buah batu dengan bakal buah yang menumpang, bkal buah yag berung 3 hanya terdapat 1 bakal biji kadang dalam bakal buah beruang 3 terdapat 1 bakal biji sempurna, biji dengan endosperm.

21. Ekor Kucing (Acalypha hispida Burm F.)
              
Klasifikasi
Regnum   : Plantae
Divicio : Magnoliophyta
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Euphorbiales
Familia     : Euphorbiaceae
Genus : Acalypha
Species     : Acalypha hispida Burm F.
                                           (http:www.wikipedia.org)

Deskripsi:
Acalypha hispida Burm F.; perdu. Akar : dikotil. Batang : berkayu,  bulat, percabangan simpodial, permukaan kasar, berwarna coklat kehijauan, dan bergetah. Daun : tunggal atau majemuk, berseling, bentuk bulat telur atau lonjong, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi bergerigi, pertulangan menyirip, daun berwarna hijau muda.   Menurut Tjitrosoepomo (2007: 153-155), Acalypha hispida Burm F. Memiliki bunga majemuk yang khas, bunga jantan dengan benang sari yang sama jumlahnya dengan daun-daun hiasan bunga betina. Berkelamin tunggal dalam satu pohon, bentuk bulat panjang menjuntai ke bawah dan berwarna merah. Buahnya bulat, kecil, berambut, berwarna hijau. Biji berbentuk bulat, kecil, berambut, berwarna hijau dan berwarna putih kotor.


C. Pembahasan

Daun (Folium),  merupakan suatu bagian tumbuhan yang penting. Pada umumnya  tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Daun biasanya tipis melebar, kaya akan suatu zat yang hijau yang dinamakan klorofil. Oleh karena itu daun biasanya berwarna hijau dan tumbuh-tumbhan nampak hijau pula. Bagian tubuh tumbuhan ini mempunyai umur yang terbatas, akhirnya akan runtuh dan meninggalkan bekas pada batang. Pada waktu akan runtuh warna daun berubah menjadi kekuning-kuningan dan akhirnya menjadi perang. Jadi daun yang telah tua, kemudian mati dan runtuh dari batang, mempunyai warna yan berbeda dengan daun yang masih segar. Fungsi dari daun bagi tumbuh-tumbuhan yaitu sebagai alat untuk pengambilan zat-zat makanan (resorbsi) terutama yang berupa zat gas (CO2), sebagai pengolahan zat-zat makanan (asimilasi), sebagai penguapan air (transpirasi), dan sebagai pernapasan (respirasi).
Bagian-bagian daun terbagai atas dua yaitu daun lengkap dan daun tidak lengkap. Daun yang lengkap mempunyai bagian-bagian yaitu upih daun (vagina), tangkai daun (petiolus), dan helaian daun (lamina). Sedangkan daun yang tidak lengkap hanya terdiri dari tangkai dan helaian daunnya saja. 
    Berdasarkan hasil pengamatan daun yang kami temukan di lokasi praktikum lapangan, umumnya merupakan daun yang tidak lengkap, dimana pada tiap-tiap spesies hanya terdiri dari tangkai dan helaian daun saja. Adapula daun yang majemuk (Folium compositum) dan daun tunggal (Folium simplex), pada daun majemuk ada yang daun majemuk menyirip (Pinnatus), menyirip gasal (Imparipinnatus). Daun majemuk tangkainya bercabang-cabang, dan baru pada cabang tangkai ini terdapat helaian daunnya, sehingga pada satu tangkai daun terdapat lebih dari satu helaian daun. Sedangkan pada daun tunggal hanya terdapat satu helaian daun saja. Sedangkan daun yang menyirip gasal yaitu pada  ujung ibu tangkai daun duduk satu helaian daun. Daun majemuk menjari yaitu daun yang duduk pada ujung ibu tangkai daun dan membentuk seperti jari. Daun majemuk beranak daun satu yaitu daun yang tidak duduk langsung pada ibu tangkai.
      Pengamatan pada batang (Caulis),dukan batang bagi tumbuh-tumbuhan, batang dapat disamakan dengan sumbu tubuh tumbuhan. Umumnya, batang mempunyai sifat yaitu berbentuk panjang bulat seperti silinder atau dapat pula mempunyai bentuk lain, akan tetapi selalau bersifat aktinomorf, yaitu dapat dengan sejumlah bidang dibagi menjadi dua bagian yang setangkup. Terdiri atas ruas-ruas yang masing-masing dibatasi oleh buku-buku, dan pada buku-buku inilah terdapat daun. Bersifat fototrof atau heliotrof, selalu bertambah panjang diujungnya, mengadakan percabangan, dan umumnya tidak berwarna hijau, kecuali tumbuhan yang umurnya pendek. Fungsi batang yaitu mendukung bagian-bagian tumbuhan yang ada diatas tanah, dengan percabangan memperluas bidang asimilasi, jalan pengangkutan air dan zat-zat makanan dari bawah keatas, jlan pengangkutan hasil-hasil asmilasi dari atas kebawah, serta menjadi tempat penimbunan zat-zat makanan cadangan. Batang (Caulis) terbagi menjadi empat, namun yang kami temukan hanya tiga jenis batang yhaitu batang bulat (Teres) , batang segitiga (Triangularis), dan batang segi empat (Quadrangularis). Pada batang bulat (Teres) ditemukan pada sebagian besar spesies rumput-rumputan (Gramineae), pada batang segitiga (Triangularis) umumnya ditemukan pada rumput teki (Cyperus rotundus), sedangkan pada batang segi empat (Quadrangularis) umumnya ditemukan pada spesies guluma.
        Pengamatan pada akar (Radix), merupakan bagian pokok yang nomor tiga (disamping batang dan daun) bagi tumbuhan yang tubuhnya telah merupakan kormus. Sifat akar yaitu  bagian tumbuhan yang biasanya terdapat didalam tanah, geotrop, dan hidrotrop, tidak berbuku-buku, warna tidak hijau, tumbuh terus pada ujungnya, dan bentuknya sering kali meruncing. Fungsi akar yaitu memperkuat berdirinya tumbuhan,  menyerap air dan zat-zat makanan yang terlarut dalam air dari dalam tanah, mengangkut air dan zat-zat makanan ke tempat-tempat pada tubuh tunbuhan yang memerlukan, dan kadang-kadang sebagai tempat penimbunan makanan. Akar terbagi menjadi dua macam sistem perakaran yaitu akar  tunggang (Radix primaria), yaitu akar yang pada perkembangan radikulanya tumbuh menjadi akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yang lebih kecil. Umumnya akar tunggang terdapat pada tumbuhan dikotil. Sedangkan pada akar serabut (Radix adventicia), yaitu pada perkembangan radikulanya akan mati atau kemudian disusul oleh sejumlah akar yang kurang lebih sama besar dan semuanya keluar dari pangkal batang. Umunya akar serabut terdapat pada tumbuhan monokotil, biasanya pada rumput-rumputan (Gramineae).
      Pengamatan pada bunga (Flos) merupakan alat perkembangbiakan. Spesies yang kami dapatkan yaitu Lantana camara termasuk bunga majemuk (Inflorescentia), karena pada suatu bunga dapat dibedakan dari cabang yang mendukung sejumlah bunga di ketiak. Pada bunga lantana camara sumbu yang mendukung bunga-bunga yang telah berkelompok tidak lagi berdaun, atau jika ada daunnya daun-daun tadi telah mengalami metamorfosis dan tidak lagi berguna sebagai alat untuk asimilasi. Lantana camara termasuk bunga sempurna karena memiliki dua alat reproduksi.
 Pada bunga Putri malu (Mimosa pudica) termasuk bunga sempurna, karena mempunyai dua alat reproduksi dan merupakan bunga yang tidak lengkap karena tidak memiliki kelopak dan mahkota bunga.
      Berdasarkan habitat dari masing-masing species, pada daerah yang kering ditemukan tumbuhan seperti rumput-rumputan (gramineae). Sedangkan pada habitat atau tempat yang lembab dan perbukitan yang dekat dengan sungai ditemukan tumbuhan seperti paku-pakuan dan tumbuhan tingkat tinggi lainnya.










BAB V
PENUTUP


A. Simpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dan deskripsi di atas maka kesimpulan pada laporan ini adalah sebagai berikut:
1. Species tumbuhan yang terdapat di Desa Tamasandi Kecamatan Uepai Kabupate Konawe diantaranya meliputi Jambu biji (Psidium guajava), Kopi (Coffea Arabica), Putri malu (Mimosa pudica Duchass), Kembang Telekan (Lantana camara), Temulawak (Curcuma xantorrihiza), Alang-alang ( Imperata cylindrica ),  Pecut kuda (Stacthytarpheta jamaicensis ), Babadotan (Ageratum conyzoides),Bunga Madu(Melastoma polyanthum), Jambu Air hutan (Eugenia sp.), Palem (Pinanga caesia  ), Licuala spinosa, Rumput Teki (Cyperus rotundus), Gamal ( GLiricidia sepium),Jati (Tectona grandis).
2. Di lokasi praktikum ditemukan adanya batang yang bulat dan persegi tiga, berakar tunggang dan serabut, pertulangan daun ada yang menyirip, sejajar, melengkung.

B. Saran

Sebaiknya literatur ini disandingkan dengan literatur lain, sehingga informasi yang diperoleh dapat dikembangkan.












DAFTAR PUSTAKA


Daniel, T.W., J.A. Helms, F.S. Baker. 1992. Prinsip-Prinsip Silvinatural.Yogyakarta: Gadjah Mada        University Press.

Davis LS.and Jhonson KN. 1987.Forest Management.Third Edition.New York: McGraw-Hill Book Company

Irwanto. 2007.Budidaya Tanaman Kehutanan.Yogyakarta : UGM Press
Latifah, Eva. 2004. Biologi 2. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Odum, E.P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi Edisi Ketiga . Yogyakarta: Gajah mada UniversityPress.

Rahman, M. 1992. Jenis dan Kerapatan Pohon Dipterocarpacea di Bukit Gajabuih Padang.Padang : FMIPA Universitas Negeri Padang.

Soerianegara, I. dan Indrawan, A. 2002.Ekologi Hutan Indonesia. Bogor: Laboratorium Ekologi Hutan, Fakultas Kehutanan IPB.

Tjitrosoepomo, gembong.1991.Dasar-dasar Taksonomi Tumbuhan.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tjitrosoepomo, G. 2010. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta: UniversitasGadjah Mada.

Ustman, Rustam. 1999. Taksonomi Tumbuhan. Padang: Jurusan Biologi Universitas Andalas.

Wikipedia. 2013. Kabupaten.Konawe.http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_
Konawe




0 komentar:

Poskan Komentar